Surabaya,- Situasi tegang terjadi di kawasan Jalan Bratang Wetan Kali Sumo No.50 Surabaya ketika seorang pria yang mengaku anggota kepolisian berpangkat perwira pertama, bernama inisial KN, diduga melakukan tindakan arogan di luar prosedur kepolisian.
Insiden ini mendapat kecaman keras dari Ketua Umum Arek Suroboyo Bergerak (ASB), Diana Samar, yang menilai tindakan tersebut telah mencoreng nama baik institusi Polri dan merusak hubungan harmonis antara aparat dengan organisasi masyarakat.
Dalam keterangannya, Diana Samar menjelaskan bahwa pihaknya berada di lokasi sebagai kuasa pendamping berdasarkan surat kuasa resmi dari klien yang ingin meminta klarifikasi kepada pegawai yang disinyalir menyalah gunakan wewenang.
“Karena yang bersangkutan kerap menghindar dari tanggung jawab, maka kami berinisiatif menunggunya di depan tempat kos dengan cara yang prosedural, berkoordinasi dengan pemilik kos, Ketua RT dan RW setempat, serta Polsek Wonokromo,” ujar Diana Samar,Sabtu (29/11/2025).
Diana mengungkapkan, di tengah proses tersebut, muncul oknum yang mengaku polisi dan bersikap tidak profesional. Diana menyebut, oknum bernama Inisial KN itu diduga dalam keadaan mabuk dan terpengaruh alkohol, hingga bertindak arogan.
“Kami menduga yang bersangkutan tidak dalam kondisi sadar penuh saat itu. Sikapnya jelas merusak citra kepolisian dan mencederai rasa hormat publik terhadap aparat penegak hukum,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Lebih lanjutnya, Fakta mengejutkan muncul ketika hasil klarifikasi dari SPKT Polrestabes Surabaya menunjukkan bahwa oknum tersebut tidak lagi berdinas di Polrestabes Surabaya, melainkan sudah bertugas di wilayah Polres Tanjung Perak.
“Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait integritas dan pengawasan internal di tubuh kepolisian,” ujarnya.
Bukan hanya itu saja, oknum Polisi tersebut justru menantang wartawan dengan nada tinggi dan menyatakan tidak takut diberitakan. Pernyataan ini semakin menegaskan sikap arogan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai profesionalisme Polri.
“Profesionalisme polisi patut dipertanyakan. Reformasi di tubuh Polri harus segera dilakukan secara menyeluruh dan holistik. Surabaya tidak butuh polisi arogan yang merasa dirinya paling tinggi di atas hukum,” tegas Diana Samar menutup pernyataannya.
ASB berharap Kapolda Jawa Timur segera mengambil langkah tegas terhadap oknum tersebut agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami percaya masih banyak polisi baik dan berintegritas. Tapi satu tindakan seperti ini bisa merusak kepercayaan publik yang sudah susah payah dibangun,” pungkasnya.









Komentar