BANGKOK, alapalap86.com – Tim dosen Akuntansi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat (PKM) di kampus Institute of Science Innovation and Culture (ISIC), Rajamangala University of Technology Krungthep (RMUTK), Bangkok, Thailand.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (18/9/2025) lalu, diikuti oleh 20 mahasiswa dengan tema “Improving Financial Management towards Prosperity”.
Kegiatan ini diketuai oleh Mariana, S.Pd., M.A, dengan anggota tim yang terdiri dari Ambar Kusumaningsih, S.E., M.A., CA., CFE, Susi Handayani, SE.Ak., M.Ak., CA., CRSA, dan Loggar Bhilawa, SE, M.Si, Ak, CA.
Dalam pernyataannya, Ketua Tim PKM Unesa Mariana mengatakan bahwa generasi muda adalah masa depan sebuah bangsa. Ia pun menyoroti tantangan yang dihadapi mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri, terutama dalam hal pengelolaan keuangan pribadi.
“Selain perbedaan budaya dan bahasa, mahasiswa yang belajar di negeri tetangga juga harus memiliki kemampuan dalam mengelola atau merencanakan keuangan dengan baik,” ujar Mariana dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (24/9/2025).
Mariana menambahkan, sasaran kegiatan ini adalah anak muda, dengan tujuan memberikan pemahaman mengenai pentingnya perencanaan keuangan sejak dini. Ia pun menekankan bahwa mempersiapkan sumber finansial akan membawa mereka menuju kesejahteraan di masa kini dan masa depan.
“Fenomena anak muda yang terjebak pada paylater, pinjaman online, dan gaya hidup hedonis akan membawa masalah keuangan jika tidak diberikan wawasan dan keterampilan dalam perencanaan keuangan yang baik sejak dini,” jelasnya.
Mariana menegaskan, masa depan adalah milik mereka yang menyiapkannya hari ini.
“Perencanaan keuangan merupakan suatu proses di mana seseorang berupaya memenuhi tujuan-tujuan keuangannya melalui pengembangan dan implementasi rencana keuangan yang komprehensif.”
Sementara, perwakilan salah satu peserta, mahasiswa Social Art asal Bangkok Wai Pyu mengungkapkan, kegembiraannya mengikuti pelatihan ini.
“Saya kuliah untuk belajar dan menyiapkan masa depan, tetapi belum disiplin dalam mengelola keuangan,” kata Wai Pyu.
Ia menjelaskan bahwa digitalisasi di berbagai sektor memang memudahkan mahasiswa, namun hal ini perlu dikontrol dengan disiplin diri sesuai kemampuan dan kondisi keuangan masing-masing.
“Rata-rata mahasiswa menghabiskan uang saku dari orang tua setiap bulannya,” tambahnya.
Wai Pyu menekankan pentingnya edukasi bahwa pendapatan hari ini tidak boleh dihabiskan seluruhnya pada waktu yang sama.
“Perlu dibangun komitmen dan kesadaran diri bahwa pendapatan hari ini harus ada yang disisihkan untuk masa depan. Pengenalan instrumen investasi juga diberikan kepada peserta,” imbuhnya.
Ia melanjutkan, mahasiswa juga diajarkan untuk menentukan tujuan keuangan, seperti membuat dana darurat, menghindari utang, dan disiplin menyisihkan uang saku untuk tabungan atau investasi.
“Kita bisa membuat passive income, membeli aset pribadi yang produktif, menyiapkan dana tambahan untuk studi lanjut, mencari sumber pendapatan tambahan, serta mengembangkan diri dan berbagi,” pungkasnya.





Komentar